Ramadhan & Perbaikan Diri

 

happy-puasa

Bulan Ramadhan telah tiba, perasaan gembira dan juga rindu meliputi jiwa orang – orang beriman. Menantikan malam – malam yang khusyu’ dengan lantunan ayat – ayat al-Qur’an dan dzikir kepada ar-Rahman.

Pembaca yang di muliakan Allah, sudah menjadi tabiat dan juga karakter orang – orang yang beriman untuk merasa senang dengan ketaatan dan juga merasa sedih dengan kemaksiatan. Sebagaimana aqidah yang di pegang teguh oleh Ahlus Sunnah, bahwa iman itu bertambah dan juga berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.

Keimanan dengan segala cabangnya adalah bagian tidak terpisahkan dalam hidup umat islam. Sebaliknya, kekafiran dengan segala cabangnya adalah perusak dan juga pengganggu ketentraman hidup mereka. Maka dengan kedatangannya bulan Ramadhan ini di setiap tahun merupakan penyejuk hati dan juga penentram perasaan. Dengan kesejukan suasana Ramadhan, umat manusia di latih untuk mengendalikan berbagai keinginan nafsunya.ia di tundukkan, di gembleng dan di bina dalam rangka taat dan juga mendahulukan kecintaan Rabbnya di atas segala-galanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)

Keimanan itulah yang akan menjadi syiar hidup mereka. Mereka hidup dan mati di atasnya, bergerak dan juga diam karenanya, ruku’ dan sujud dengannya, harap dan takut karenanya, cinta dan benci pun karenanya. Iman itulah yang menggerakan persendian hidup mereka. Karena itulah, tatkala noda maksiat dan kotoran dosa merusak hati dan pikiran mereka,mereka pun merasa terganggu dan juga tidak nyaman dengannya. Mereka sangat menyadari bahwa lunturnya nilai-nilai keimanan merupakan bencana bagi kehidupan mereka, di dunia sebelum nanti di akhirat.. wal ‘iyadzu billaah

Jadi tidak heran, jika sahabat Abdullah bin Mas’ud memberikan gambaran dua sikap yang sangat berlainan, antara orang yang menjaga nilai-nilai keimanan dengan orang yang telah terbuai dan terbius dengan racun-racun kekafiran. Beliau berkata, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung, dia khawatir kalau gunung itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir/munafik melihat dosa-dosanya seperti lalat saja, yang mampir di atas hidungnya, lantas dengan ringannya dia halau lalat tersebut -dengan tangannya-.” (HR. Bukhari)

Inilah ibadah agung yang dinantikan itu… Seorang mukmin, tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Baginya, dunia seisinya tidak ada artinya dibandingkan ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Inilah kenikmatan hakiki dan kebahagiaan yang sejati. Karena dengan puasa, seorang hamba akan berjuang untuk menjadi sosok yang bertakwa. Dan dengan ketakwaan itulah, seorang manusia akan menjadi mulia dan dicintai oleh Rabb alam semesta.

Ramadhan telah tiba, bekali diri kita dengan ilmu dan iman, tuk menyambut bulan yang agung, bulan yang penuh kebaikan, bulan yang menjadi penghibur hati orang-orang yang beriman. Allahul musta’aan

Terikasih telah memebaca. Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *