Hai para bunda yang memiliki anak-anak yang selalu bertengkar dengan temannya, yuk ajarkan kepada mereka tentang memaafkan. Mau tahu caranya? Lihat disini

Mengajarkan Anak Tentang Memaafkan

 640xauto-di-momen-idul-fitri-ajarkan-si-kecil-arti-saling-memaafkan-140728u

Mari buat dunia menjadi lebih baik dengan mengajarkan anak tentang cara memaafkan!

Memaafkan lebih sulit dari pada meminta maaf

Kenyataannya, memaafkan lebih sulit dibanding meminta maaf. Ada banyak manusia yang belum tahu cara memaafkan, bahkan ketika mereka telah dewasa. Orang lebih memilih untuk melupakan daripada memaafkan.

Akibatnya, rasa marah akibat perlakuan yang diterimanya masih membekas dan siap meledak kembali kapan saja. Tindakan kekerasan yang kerap terjadi di tengah masyarakat belakangan ini bisa jadi merupakan buah dari api dendam yang belum bisa memaafkan.

Kita tak perlu menjadi politisi sekelas Angela Merkel untuk bisa mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengan mengajarkan kepada buah hati Anda tentang memaafkan, maka Anda telah menanamkan bibit kebaikan dalam hatinya. Anda  pun dapat belajar bersama dengan mereka untuk dapat lebih memahami makna memaafkan.

Kami menyarankan beberapa langkah berikut sebagai acuan untuk mengajarkan tentang memaafkan kepada anak :

  1. Katakan sejujurnya

Ketika anak tumbuh besar, ia akan memiliki lebih banyak teman dibandingkan ketika masih duduk di TK. Bullying merupakan sesuatu hal yang sangat umum dialami anak sekolah dewasa ini.

Anda dapat memutus rantainya dan mencegah anak Anda menjadi pelaku bullyingdengan menyarankan anak untuk memaafkan teman yang telah membuat dirinya kesal.

Minta mereka untuk mengatakan pada temannya bahwa mereka tidak suka diperlakukan seperti itu, dan jangan keluarkan kata-kata kasar.

Jika anak mengeluh sikap temannya tidak menunjukkan perubahan, minta anak Anda mencari bantuan dengan melaporkan perlakuan yang diterimanya kepada wali kelas.

Namun, langkah ini sebaiknya diambil sebagai tindakan terakhir ketika anak tak sanggup lagi menolerir perlakuan temannya.

  1. Jangan menyiram api dengan bensin

Mungkin anak Anda pernah merasa kesal pada anak tetangga atau saudara sepupu yang merusakkan mainannya. Segera hentikan rasa kesal itu dengan menghiburnya dan janji Anda untuk membelikan mainan yang baru.

Jangan menyiram bara api di dadanya dengan ikut menyalahkan anak yang telah merusakkan mainannya, Bunda. Sebaliknya, segera dinginkan hatinya dengan kata-kata seperti ‘Andi masih kecil dan ingin bisa bermain robot-robotan seperti kamu’, atau ‘Sudah, jangan nangis. Mainannya mungkin sudah rusak dari dulu.

3. Kosong-kosong

Jangan buat anak mengingat kembali perlakuan buruk seseorang terhadapnya agar ia bisa benar-benar memberikan maafnya. Jika seseorang itu adalah saudara atau kerabat, ceritakanlah hal-hal baik yang pernah dilakukan mereka. Seorang teman yang mem-bully-nya pasti memiliki sisi baik, dan mintalah ia mengingatnya.

4. Suri tauladan

Anak adalah cerminan orang tuanya. Mereka tidak akan menjadi pemaaf jika Anda sendiri masih belum melupakan kekesalan terhadap seseorang yang pernah menyakiti hati Anda. Lagipula, apa enaknya sih menyimpan dendam? Bukankah itu seperti memelihara api di dalam dada sendiri?

Selamat memaafkan!

Ternyata saling memaafkan itu indah. Mau tahu bagaimana indahnya? Yuk lihat

Indahnya Saling Memaafkan

boysshakinghandsapologize

Suatu ketika sahabat Bilal bin Rabah RA terlibat pertikaian dengan Abu Dzar RA. Abu Dzar melontarkan perkataan yang sangat menyakitkan hati Bilal. “Wahai anak wanita hitam.” Bilal lalu mengadukan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Dan, Rasulullah pun memanggil Abu Dzar guna mengklarifikasi kejadian tersebut. Lalu, Rasul menasihatinya dan Abu Dzar merasa dia telah berbuat salah dan zalim kepada sahabat seperjuangannya.

Saat itu juga, Abu Dzar mencari keberadaan Bilal. Sesampainya di hadapan Bilal, Abu Dzar meletakkan pipinya di atas padang pasir di bawah teriknya matahari sambil berkata, “Wahai sahabatku, aku rela engkau menginjak pipiku ini demi memperoleh maaf darimu atas perbuatan zalim yang telah aku perbuat.” Namun, ketika itu Bilal merogoh tangan Abu Dzar. “Aku telah memaafkanmu wahai sahabatku.” Sungguh indah akhlak yang diperlihatkan kedua sahabat Rasulullah SAW.

Dalam menjalani hidup sosial bermasyarakat, manusia tidak pernah lepas dari sebuah kesalahan, entah itu terhadap tetangga, kawan, ataupun rekan kerja. Kesalahan adalah suatu hal yang wajar ketika kita berinteraksi dengan sesama. Namun, ketika kita bisa menyikapi kesalahan tersebut dengan suatu proses saling maaf dan memaafkan, itulah yang luar biasa. “Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi).

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS al-A’raf: 199). Dalam ayat tersebut Allah SWT mengabarkan kepada umat Muslim bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di atas muka bumi ini.

Tiga konsep yang Allah berikan kepada kita. Pertama, jadilah pemaaf. Ketika proses saling maaf dan memaafkan sudah menjadi habit (kebiasaan) dalam masyarakat, sungguh masyarakat tersebut akan menjadi suatu masyarakat yang harmonis, mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) menaungi mereka.

Kedua, mengimbau kepada kebenaran. Di kala rasa cinta dan kasih menaungi kehidupan mereka, di sana akan terjalin suatu interaksi yang harmonis dan mereka akan mengoreksi sahabatnya yang berbuat kesalahan.

Ketiga, berpaling dari orang-orang bodoh. Ketika suatu masyarakat sudah menjadi masyarakat harmonis dan religius, sungguh mereka akan berpaling dari perilaku orang-orang yang bodoh, perilaku yang kering akan hal-hal yang bermanfaat. Dan, seperti inilah seorang Muslim, “meninggalkan suatu hal yang tak berguna adalah kebaikan bagi seorang Muslim.”

Pantaskah seorang dewan legislatif adu jotos karena suatu hal sepele, padahal mereka adalah wakil-wakil rakyat? Pantaskah suatu kelompok agama menghujat kelompok lainnya demi kepentingan segelintir orang, padahal mereka berdiri di atas agama yang sama.

Masyarakat yang sarat akan nilai-nilai cinta dan kasih bermula dari suatu proses yang sangat agung, yaitu saling maaf dan memaafkan. “Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah yang Maharahman. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah.” (HR Ahmad).Wallahu a’lam.